DIREKTUR UTAMA Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Shana Fatina mengungkapkan bahwa penyelenggaraan G20 terhadap pariwisata yang berkelanjutan tentu mendorong isu penting seputar produktivitas, resiliensi, keberlanjutan, dan kemitraan, sehingga akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan yang berkelanjutan, inklusif dan hijau termasuk melalui pengembangan ekonomi digital, serta pemberdayaan perempuan dan pemuda.

Sejak 2019, menurut Shana, wajah Kota Labuan Bajo secara perlahan sudah dipercantik, dipoles, dan didandani dengan menghadirkan berbagai fasilitas publik yang diharapkan dapat memberi ruang bagi masyarakat, dan juga wisatawan untuk dapat menikmati pesona Kota Labuan Bajo dari sisi arsitektur dan budaya, serta kreativitas yang menjadi salah satu pendorong lahirnya ide kreatif masyarakat.

"Labuan Bajo sangat siap menyambut penyelenggaraan KTT G20 dan ingin memaksimalkannya juga selaras antara pusat maupun daerah termasuk komunitas, hingga media," ujar Shana dalam keterangan resmi, Selasa (9/3). BPOLBF hadir sebagai respresentasi pemerintah pusat di daerah, mengorkestrasikan seluruh kepentingan dalam membangun pariwisata Labuan Bajo dan demi menjawab arahan pusat, pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing yang diharapkan dapat menggerakkan perekonomian daerah sesuai dengan misi dan arahan Presiden Joko Widodo. "Bagi kami event G20 adalah puncak dari seluruh proses pembangunan di Labuan Bajo yang sudah selesai dan masih terus berjalan. Kami di BPOLBF sangat siap membuat Labuan Bajo menyambut gelaran G20," kata Shana. Tahun ini Indonesia menjabat sebagai Presidensi G20, sebuah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). Saat ini anggota negara G20 atau biasa disebut Group of Twenty meliputi Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Meksiko, Korea Selatan, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.
Forum G20 adalah forum strategis, karena anggotanya mewakili lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Untuk menjadi anggota G20, negara anggota perlu memberikan dampak dan berkontribusi pada perekonomian dunia serta menjaga stabilitas keuangan dunia. Setidaknya negara anggota G20 adalah negara yang termasuk 20 besar ekonomi dunia yang bisa dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Penetapan Indonesia sebagai Presidensi G20 menghadirkan pembahasan dalam dua jalur pertemuan, salah satunya adalah jalur Sherpa atau Sherpa Track yang mengambil fokus pada pembahasan isu ekonomi non-keuangan dan termasuk di dalamnya ada sektor pariwisata.

Selain Bali dan Jakarta, Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur juga akan menjadi salah satu tempat untuk penyelenggaraan side event dari G20. Ini tentu menjadi momentum tepat seiring dengan cita-cita dan harapan Indonesia agar kembali pulih bersama pasca pandemi Covid-19 sekaligus membangun pariwisata berkelanjutan khususnya bagi Labuan Bajo. (E-3)