Dirut BOPLBF : Sampah Adalah Masalah Bersama Yang Harus Diselesaikan Dengan Inovasi Dan Kolaborasi.

Created at 01 Mar 2021

Sampah telah menjadi masalah serius sejak lama dan menjadi salah satu isu serius dalam kepariwisataan. Hingga tahun 2020, produksi sampah Labuan Bajo mencapai 112.4 meter kubik atau setara 13 ton dalam sehari. Karena sampah adalah masalah bersama, maka ini harus diselesaikan secara bersama - sama melalui inovasi dan kolaborasi.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina dalam sambutannya pada acara sosialisasi program Pilot Activity Pengelolaan Sampah Mandiri yang diselenggarakan di Desa Gorontalo, Labuan Bajo, Kab. Manggarai Barat, pada Rabu (24/02/2021).

Kegiatan pilot activity ini diselenggarakan dalam rangka melaksanakan Strategi I dan II Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) sebagaimana tertuang pada Perpres No. 83 Tahun 2018. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah, dan memaksimalkan peran serta para pemangku kepentingan dalam pengelolaan dan penanganan sampah.

Terselenggaranya kegiatan ini diinisiasi oleh Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL). Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut digelar secara luring dan daring. Dirut BOPLBF, Shana Fatina hadir secara langsung bersama Wakapolres Manggarai Barat; Kompol Sukanda, Kepala Desa Gorontalo; Vinsensius Obin,  dan sejumlah warga Desa Gorontalo lainnya. 

Turut hadir juga secara daring yakni perwakilan dari Korea Environment Corporation (KECO), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Manggarai Barat, serta beberapa perwakilan dari komunitas pegiat lingkungan.

Acara sosialisasi ini juga sekaligus sebagai peresmian aktivitas proyek percontohan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) Mandiri masyarakat Labuan Bajo, yang dimulai di Desa Gorontalo, sejak Agustus 2020.

Kegiatan sosialisasi dibuka dengan serah terima secara simbolis tempat sampah dan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) secara virtual oleh Novrizal Tahar selaku Direktur Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) sekaligus Sekretaris I Tim Pelaksana Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Sampah Laut (RAN PSL) kepada Kepala Desa Gorontalo, Labuan Bajo.

Dalam sambutannya, Direktur PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Novrizal Tahar mengatakan, Pilot Activity ini merupakan langkah percontohan yang diharapkan menjadi pemicu kesadaran yang dimulai dari lingkungan terkecil.

“Kegiatan ini harapannya dapat dilihat sebagai sebuah manifestasi dari kepedulian terhadap permasalahan sampah dan instrumen peningkatan kesadaran dari berbagai stakeholder terhadap usaha pengelolaan sampah, terutama sampah yang bersumber dari darat”, ujar Novrizal. 

Sampah adalah isu serius yang dihadapi dalam upaya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Sehingga aktivasi pengelolaan sampah mandiri merupakan salah satu langkah taktis yang harus diupayakan.

Pada kesempatan ini, Dirut BOPLBF menegaskan bahwa dengan jumlah penduduk 7.464 jiwa dan 105 KK, Pilot Activity di Desa Gorontalo diharapkan akan menjadi unit percontohan untuk pengelolaan sampah mandiri di wilayah lainnya dan kedepannya dapat menunjang ekosistem pariwisata yang bersih, indah, sehat, dan tentunya berkelanjutan. 

"Kesadaran masyarakat merupakan salah satu kunci utama pengelolaan sampah di Labuan Bajo yang bisa dimulai sejak dini. Salah satunya yakni prinsip pengelolaan sampah mandiri melalui pemisahan sampah rumah tangga sesuai dengan jenisnya", terang Shana. 

Dukungan terhadap kegiatan ini tidak hanya datang dari Pemerintah Indonesia saja melainkan organisasi internasional yaitu Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang juga turut mengapresiasi langkah ini. Dukungan tersebut dikemukakan melalui pernyataan dari Natural Resource and Climate Governance Adviser United Nation Development Programme (UNDP) Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang.

“Kegiatan ini merupakan bukti nyata dari usaha pemerintah Indonesia dalam hal ini Sekretariat TKN PSL, untuk mewujudkan Perpres Nomor 83 Tahun 2018. UNDP juga telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan strategi ekonomi sirkuler nasional. Kita tahu bahwa ekonomi sirkuler memiliki banyak manfaat, dan yang paling jelas adalah pengurangan konsumsi material dan pengurangan sampah. Oleh karena itu kami tentunya terus berharap agar kegiatan yang dilakukan oleh Sekretariat TKN PSL ini dapat dilanjutkan dan didukung oleh setiap pihak”, ujar Abdul Wahib Situmorang.

Desa Gorontalo dipilih sebagai lokasi pelaksanaan pilot activity mengingat Desa ini merupakan bagian dari destinasi pariwisata super prioritas Labuan Bajo. Pelaksanaan kegiatannya sendiri terbagi menjadi 3 tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi. Harapannya, permasalahan ini dapat teratasi dan juga sampah yang dihasilkan bisa diolah menjadi produk bernilai jual seperti kompos, maupun produk daur ulang lainnya.

Ada pertanyaan ?

Lihat FAQ ? atau Hubungi Kami