Ruteng, Beritasatu.com - 2022 dinobatkan sebagai tahun pastoral pariwisata holistik bertema “Berpartisipasi, Berbudaya, dan Berkelanjutan” oleh Keuskupan Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tema ini diangkat karena pariwisata holistik meliputi berbagai aspek yang mendukung kesejahteraan manusia dan terintegrasi dengan keutuhan ciptaan (manusia dan alam).

Uskup Ruteng, Silvianus Hormat mengatakan pariwisata holistik mengedepankan budaya dan religi di samping kesejahteraan. "Kesejahteraan yang diangkat tidak hanya menyasar pada satu aspek, tetapi holistik untuk masyarakat," kata Silvianus Hormat dalam Sidang Pastoral Post Natal Keuskupan Ruteng yang diselenggarakan di Ruteng, Manggarai Kamis (6/1/2022).

Dalam keterangan yang diterima Jumat (7/1/2022) Silvianus Hormat menambahkan bahwa kesejahteraan, persaudaraan, dan perdamaian adalah nilai dalam gereja yang juga menjadi fokus pemerintah, dalam pengembangan pariwisata.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Shana Fatina mengapresiasi diangkatnya tema kepariwisataan sebagai tema pastoral tahun 2022. "Kami merasa terhormat 2022 dijadikan tahun pariwisata holistik oleh Keuskupan Ruteng. Ini adalah langkah yang baik bagi Manggarai Raya dalam mengambil peluang saat momentum pengembangan pariwisata Labuan Bajo Flores" kata Shana.

Shana mengatakan pembangunan pariwisata tidak hanya fokus ke destinasi, tetapi juga masyarakatnya. "Warga lokal juga menerima manfaat dari pengembangan pariwisata ini," kata dia.

Menurutnya, salah satu cara agar masyarakat aktif berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata dengan menjadikan pariwisata sebagai jiwa dari Manggarai Raya. "Mari bersama-sama membangun mindset baru bahwa berwisata dan jalan-jalan itu penting sehingga sejak dini seseorang itu sudah menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kehidupan mereka" pungkasnya.

Sementara Bupati Manggarai, Hery Nabit mengatakan pariwisata, budaya, dan religi bisa berjalan beriringan. Pariwisata adalah kendaraan dalam menjaga semangat dalam budaya dan religi. "Brand wisata Manggarai adalah wisata religi dan budaya, maka ini adalah momentum untuk mempertahankan semangat dengan cara baru yaitu melalui pariwisata," jelas Hery.

Senada, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi mengatakan agar pariwisata bisa menjadi kendaraan, perlu ada penguatan konektivitas baik dari segi infrastruktur maupun promosi.

Dukungan pengembangan pariwisata ini juga disampaikan Sekda Manggarai Timur, Bonifasius Hasundungan. Dia mengatakan Pemda Manggarai Timur selalu mendukung perkembangan pariwisata di Labuan Bajo dan berharap kolaborasi lintas kabupaten terus dilakukan sehingga sebagai menjadi satu kesatuan yaitu Manggarai Raya.