Labuan Bajo ditetapkan sebagai salah satu lokasi side event G20. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Shana Fatina berharap gelaran itu bisa menciptakan lapangan kerja yang luas untuk masyarakat setempat.

Tak ingin kehilangan momentum, persiapan pun dimatangkan yang bersinergi dengan Kementerian Sekretariat Negara dan Kemenparekraf. Salah satu yang jadi sorotan adalah soal suvenir.

Pihaknya juga menyiapkan peta perjalanan wisata yang menggandeng masyarakat Labuan Bajo-Flores untuk ikut serta. Destinasi yang ditawarkan tidak hanya Taman Nasional Komodo yang sudah dikenal di mancanegara.

"Harapannya akan menarik para delegasi maupun para wisatawan untuk menjelajahi keindahan Labuan Bajo-Flores yang punya banyak alternatif destinasi selain Taman Nasional Komodo yang sudah cukup dikenal," ujar Shana.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyebut pemerintah menyiapkan 46 paket tur yang terdiri dari 27 paket wisata dan 19 paket pasca-G20. Paket tur tersebut tidak hanya berpusat di Bali, tetapi disebar di empat destinasi super prioritas.

Rinciannya terdiri dari dua paket tur dan tur pasca-G20 di Lombok; enam paket pasca-tur di Labuan Bajo; enam paket tur dan tiga paket pasca-tur di Yogyakarta, dan enam paket tur pasca-G20 di Danau Toba. Khusus di Bali, ada beberapa lokasi yang disiapkan, yakni Garuda Wishnu Kencana, Desa Carang Sari, Kintamani, Gunung Batur, dan Ubud.

Pariwisata Holistik
Persiapan Labuan Bajo Jadi Lokasi Side Event G20, dari Destinasi hingga Suvenir

Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Shana Fatina. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Dalam kesempatan berbeda, Shana mengapresiasi usulan menjadikan 2022 sebagai Tahun Pariwisata Holistik oleh Keuskupan Ruteng. Ia menyatakan hal itu sebagai langkah yang baik bagi Manggarai Raya untuk mengambil momentum pengembangan pariwisata Labuan Bajo-Flores.

Pariwisata holistik diartikan oleh Uskup Ruteng Silvianurs Hormat adalah pariwisata yang mencakup berbagai aspek untuk mendukung kesejahteraan manusia dan terintegrasi antara manusia dan alam. "Kesejahteraan yang diangkat dalam pariwisata tidak hanya menyasar pada satu aspek, tetapi kesejahteraan holistik atau menyeluruh untuk masyarakat," jelas Uskup Ruteng.

Mendukung hal itu, Shana mengklaim bahwa pembangunan pariwisata yang dilakoni BPOLBF tidak saja fokus ke aspek destinasi, tetapi juga masyarakat. Tujuannya agar masyaraka bisa mendapat manfaat dari pengembangan sektor tersebut. Masyarakat diminta berpartisipasi aktif dalam proses pengembangan itu.

"Pada kesempatan ini, kami mohon bantuan Yang Mulia Bapa Uskup, Romo, dan Pater untuk kita bersama-sama mengajak masyarakat Manggarai Raya untuk membangun mindset baru bahwa berwisata dan jalan-jalan itu penting, sehingga sejak dini seseorang itu sudah menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kehidupan mereka," ucap dia dalam Sidang Pastoral Post Natal Keuskupan Ruteng.