Labuan Bajo, 26 Februari 2026 — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melaksanakan visitasi dan audiensi resmi ke Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Manggarai Barat pada Kamis (26/02/2026) sore. Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi kelembagaan terkait penguatan sistem data kepariwisataan yang berbasis kebutuhan industri dan pengambilan kebijakan.

Audiensi ini diinisiasi Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, dan diterima langsung oleh Kepala BPS Kabupaten Manggarai Barat, Ikhe Suryaningrum, S.Pi., MAB, beserta jajaran.
Dalam diskusi tersebut, BPOLBF menyampaikan kebutuhan indikator prioritas yang relevan bagi industri pariwisata, antara lain _Length of Stay (LoS)_ atau lama tingal dan pengeluaran wisatawan. Selain itu, data pendukung seperti asal negara wisatawan, tingkat pengeluaran, karakteristik, serta profil responden wisatawan dinilai penting untuk mendukung analisis pasar dan perumusan strategi pengembangan destinasi.
Pada tahun ini, BPOLBF mendorong penguatan kerja sama strategis dalam pengelolaan dan pemanfaatan data.
_“Kami mendorong penguatan kerja sama strategis dalam pengelolaan data kepariwisataan, karena data yang akurat dan relevan menjadi fondasi utama dalam menyusun kebijakan dan strategi pengembangan destinasi. BPOLBF juga terbuka untuk mendukung kolaborasi kelembagaan, termasuk menyediakan ruang promosi bagi BPS sebagai bentuk sinergi antarinstansi,”_ ujar Andhy MT Marpaung.
Kepala BPS Kabupaten Manggarai Barat, Ikhe Suryaningrum, S.Pi., MAB, menjelaskan bahwa sejumlah instrumen statistik dapat dimanfaatkan untuk membaca dinamika sektor pariwisata, termasuk pemanfaatan _Mobile Positioning Data (MPD)_ guna melihat pola mobilitas wisatawan.
Ia juga menyampaikan bahwa _Passenger Exit Survey (PES)_ 2025 dilakukan secara nasional dengan sekitar 600 sampel responden, sehingga indikator spesifik destinasi seperti LOS dan pengeluaran belum dapat dimasukkan karena pendekatannya masih berskala nasional.
_“Untuk memperoleh indikator spesifik destinasi Labuan Bajo, diperlukan desain survei tersendiri dengan margin of error sekitar 10 hingga 12 persen. BPS terbuka untuk memberikan pendampingan teknis kepada BPOLBF, mulai dari pelatihan survei dan pendataan, pengolahan data, hingga analisis dan diseminasi hasilnya,”_ jelas Ikhe Suryaningrum.
Lebih lanjut, BPS juga menyampaikan bahwa data preferensi wisatawan Labuan Bajo secara spesifik belum tersedia karena survei masih berbasis nasional. Namun, kebutuhan data industri dapat diarahkan pada analisis tren pasar serta pemanfaatan klasifikasi usaha berbasis KBLI internal BPS.
Audiensi ini menghasilkan kesepahaman bahwa kolaborasi lanjutan antara BPOLBF dan BPS sangat diperlukan untuk membangun sistem data pariwisata yang lebih terstruktur, akurat, dan berbasis kebutuhan industri. Pengembangan survei spesifik destinasi Labuan Bajo dinilai penting guna memperoleh indikator LOS dan Spending yang lebih presisi.
Sebagai tindak lanjut, BPOLBF akan menyampaikan surat resmi kepada BPS Provinsi dengan tembusan ke BPS Pusat terkait permohonan data profil wisatawan Labuan Bajo yang relevan dengan kebutuhan industri pariwisata di kawasan tersebut.
Melalui sinergi ini, BPOLBF menegaskan komitmennya untuk terus mendorong tata kelola pariwisata yang berbasis data guna memperkuat daya saing dan keberlanjutan pariwisata Labuan Bajo Flores.
*-------*
*Sisilia Lenita Jemana*
*Kepala Divisi Komunikasi Publik*
*Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores*