BOPLBF Digitalisasi 15 Desa Wisata di Manggarai Raya

Ruteng, 31 Oktober 2020- Dalam rangka pengembangan pariwisata premium berkelanjutan di Labuan Bajo Flores, Lembata, Alor, dan Bima, Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) menggelar Kegiatan Penguatan Digitalisasi Destinasi Wisata di Hotel Revaya Ruteng, (27-28/10/2020).
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Divisi Komunikasi Publik Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF); Sisilia Jemana, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Manggarai; Angkat Anglus dan 2 Narasumber dari Institut Desa Wisata Jogjakarta; Rokhmadu Inuhayi dan Pelaku Wisata Desa sekaligus pemilik dan pengelola Sun Rice Homestay di Kenda, Ruteng; Yeremias J Aquino, perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta para Kepala Desa dan peserta dari 15 Desa Wisata di 3 Kabupaten (Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur).
Melalui kegiatan ini Direktur Utama BOPLBF Shana Fatina menjelaskan pentingnya memperkuat destinasi wisata, khususnya Desa Wisata dengan digitalisasi. Melalui pemanfaatan teknologi digital sebagai saluran informasi dan komunikasi yang mampu menyajikan potensi wisata desa Shana berharap promosi dan peningkatan kualitas pariwisata desa wisata dapat makin dioptimalkan.
“Sudah saatnya Desa-Desa Wisata kita di NTT go digital, dengan begitu informasi terkait potensi wisata desa makin mudah diakses oleh wisatawan. Masyarakat Desa Wisata juga secara mandiri dapat melakukan pemberdayaan ekonomi desanya dan sudah pasti desanya menjadi berkembang”, ungkap Shana.
Menurut Shana, visi menjadikan NTT sebagai gerbang ekowisata dunia meniscayakan peran serta Desa Wisata untuk turut berpartisipasi mewujudkan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Bagaimana menjadikan masyarakat, dalam hal ini masyarakat desa sebagai komponen utama pembangunan pariwisata di desanya masing-masing melalui sajian aktivitas keseharian masyarakat desa dan produk hasil tani atau kebun, serta aktivitas seni budaya masyarakat desa setempat yang memiliki keaslian budaya serta potensi desa lainnya yang dapat memberi nilai lebih/added value bagi masyarakat.
“Desa-desa wisata yang sudah siap kita digitilisasi dan kita pastikan aktifitas digitalnya dikelola dengan baik dan berkelanjutan, sambil tetap kita dampingi sampai mereka benar-benar mandiri dalam pengelolaan digitalnya”, jelas Shana.
Sementara itu, Kepala Divisi Komunikasi Publik BOPLBF Sisilia Jemana dalam kesempatan tersebut menerangkan, dalam kegiatan tersebut peserta akan dilatih bagaimana membuat konten media yang menarik terkait potensi wisata di desanya masing-masing.
“Teman-teman Desa Wisata selama 2 hari ini akan kami bekali dan kami latih bagaimana membuat konten foto yang baik dengan menggunakan kamera sederhana, selain itu juga akan kami latih bagaimana membuat caption atau narasi yang baik yang bisa menunjang konten foto yang ada”, jelas Sisilia.
Konsep pembangunan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) saat ini menjadi kiblat utama pembangunan pariwisata di NTT. Destinasi Eco-Wisata Premium, merupakan wujud destinasi wisata dengan konsep Sustainable Tourism (Eco-tourism) yang berkelanjutan, yang mengoptimalkan potensi pariwisata yang otentik dan mengedepankan orisinalitas, kekayaan alam, dan budaya lokal masyarakat desa.
Hadirnya Desa wisata pada akhirnya perlu ditopang oleh kemudahan akses infomasi mengenai potensi wisata desa itu sendiri yang dalam penyajiannya paling mungkin dilakukan dengan memaksimalkan penggunakan teknologi digital sebagai saluran informasi desa wisata yang dikelola oleh desa sendiri secara mandiri.
Tahun 2019 lalu, pariwisata go digital juga telah dicanangkan sebagai wujud kesiapan pariwisata Indonesia memasuki era industri digital 4.0 (tourism 4.0) yang berarti dalam pengembangannya pemanfaatan teknologi digital merupakan platform utama sebagai saluran informasi sekaligus promosi pariwisata, dimana sekitar 50% aktivitas perjalanan wisata dilaksanakan oleh para milenial dan 70% masyarakat melakukan aktivitas share dan like menggunakan media digital.
Dengan demikian potensi pasar digital menjadi momentum yang perlu ditangkap oleh para pelaku pariwisata, dalam konteks pengembangan Desa Wisata berbasis digital.