Labuan Bajo, 13 Maret 2025 -
Pengembangan kawasan Parapuar yang merupakan kawasan pariwisata terintegrasi dengan Labuan Bajo yang dikelola Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dilakukan melalui pendekatan akademik, pemanfaatan teknologi dan pelaksanaan prinsip yang benar agar kepariwisataan dan kegiatan wisata di daerah ini tetap berkualitas sekaligus berkelanjutan.
Nusa Tenggara Timur, Khususnya Pulau Flores dan sekitarnya memiliki potensi wisata alam dan budaya yang indah. Keunikan dan keragaman warisan budaya mulai dari adat istiadat, arsitektur, tarian, lagu, musik, flora, fauna, kuliner, tenun, dan alamnya merupakan daya tarik utama dari daerah ini yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.
Berangkat dari fakta ini, wilayah Flores sebagai wilayah koordinatif Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan Parapuar yang menjadi kawasan otoritatif dikelola dan dikembangkan dengan pendekatan akademik, pemanfaatan teknologi dan pelaksanaan prinsip yang benar agar kepariwisataan dan kegiatan wisata di daerah ini tetap berkualitas sekaligus berkelanjutan.
Pembangunan dan pengembangan di Kawasan Parapuar sendiri menggunakan pendekatan etno, eco, and edu tourism dipadukan dengan komitmen untuk melaksanakan culture and nature conservation. Pengertian conservation di sini juga meliputi preservation. Konsep pengembangan ini diberi nama 3ECNC (Ethno - Eco - Edu - Culture & Nature Conservation) dan akan menjadi pendekatan pembangunan Destinasi (Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas, Masyarakat, Citra dan Pengelolaan) yang dikerjakan BPOLBF di Kawasan Parapuar.
Saat ini, BPOLBF telah memiliki Sertifikat HPL (Hak Pengelolaan Lahan) untuk total luasan lahan 129,60 Ha. Dari Total lahan HPL ini, hanya 20,05% dari keseluruhan kawasan yang akan dimanfaatkan pada zona ini. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga keseimbangan ekologis di sekitar Kawasan Parapuar. Dalam Masterplan Pengembangan Kawasan yang telah direview kembali oleh para pakar, total luasan yang terbangun ini telah diklusterkan menjadi 19 Kluster untuk peruntukan pada fungsinya masing-masing yang juga mengedapankan konsep berkelanjutan. Ke-19 Kluster atau lot (A - S) tersebut adalah:
Kluster A: Perkantoran
Kantor Manajemen berbasis Ekologi, Pusat Informasi Wisata Edukasi (TIC), Kantor Forum Pemangku Kepentingan berbasis Etnografi, serta Gedung Utilitas dan Halte Shuttle.
Kluster B: Perdagangan, Budi Daya, dan Perkantoran
Eco Factory Outlet and Etno UMKM Kiosk, Eco Greenhouse, dan Gedung Layanan berbasis Ekologi.
Kluster C: Perdagangan
Forest Restaurant berbasis Ekologi.
Kluster D: Wisata & Rekreasi
Resor Boutique Premium berbasis Ekologi.
Kluster E: Perdagangan
Eco Cliff Restaurant.
Kluster F: Kebudayaan
NTT, Flores, Manggarai dan Bajo Cultural Centre, Etno Ecological Museum.
Kluster G: Wisata & Rekreasi
Eco Wall Climbing.
Kluster H: Pelayanan Umum
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis Ekologis.
Kluster I: Wisata & Rekreasi
Ecological Hiking, Jogging, dan Running Centre, Eco Creative Hub, Educational Outbound Area, Amphitheatre, dan Edu Child Friendly Playground.
Kluster J: Wisata & Rekreasi
Eco Parapuar 360° Outlook Gallery CafÈ (Natas).
Kluster K: Kebudayaan
Edu Traditional Cultural Village with Etno Outdoor Theatre.
Kluster L: Wisata & Rekreasi, Budi Daya, dan Pelayanan Umum
Edu Mini Zoo, Natural Reserve Park Centre, Edu Botanical Garden, dan, Ethnological Lodok, Bangunan Gedung Parkir.
Kluster M: Wisata & Rekreasi
Ecological Forest Healing dan Regenerative Tourism Centre.
Kluster N: Wisata & Rekreasi
Ecological and Educational Premium Glamping.
Kluster O: Wisata & Rekreasi
Yoga and Eco Meditation.
Kluster P: Perhotelan
Ecological Family Resort.
Kluster Q: Perkantoran dan Perhotelan
Eco MICE dan Eco Hotel.
Kluster R: Perdagangan
Eco Eiger CafÈ.
Kluster S: Pelayanan Umum
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKLU) Ekologis.
Frans Teguh, Plt. Direktur Utama BPOLBF mengungkapkan, sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan, 19 lot atau kluster di Parapuar ini dirancang dengan mengutamakan prinsip-prinsip keberlanjutan.
"Pengembangan Parapuar dirancang dengan mengutamakan prinsip-prinsip keberlanjutan. Mulai dari pemanfaatan sumber daya alam yang efisien, penerapan teknologi ramah lingkungan, hingga peningkatan kualitas kehidupan masyarakat setempat. Kami memastikan bahwa setiap tahap pembangunan akan memperhatikan aspek ekologis dan sosial, dengan mengintegrasikan green solution yang mendukung pelestarian alam dan pemberdayaan komunitas lokal. Konsep ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan kawasan yang nyaman dan modern, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan, yang merupakan tanggung jawab kita bersama", jelas Frans.
Frans juga berharap pengembangan Parapuar dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi Parapuar, sekaligus menjadi contoh bagi proyek-proyek serupa di masa depan yang mendukung pembangunan yang ramah lingkungan dan ramah sosial.
--------
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores